Showing posts with label indonesia penyebab pemanasan global. Show all posts
Showing posts with label indonesia penyebab pemanasan global. Show all posts

Saturday, February 21, 2009

Indonesia Peat Fires May Fuel Global Warming, Experts Say

As they have every dry season for the last 20 years, once lush tropical peatlands in Indonesia smoldered for weeks this year, leaving the region cloaked in a thick, carbon-rich haze.

The rainy season arrived at the end of October, squelching the flames. Even so, Jack Rieley, a peatland ecologist at the University of Nottingham in the United Kingdom, had no time to sigh in relief. With the rains come the floods.

"Another downside is the peatlands are losing their water-retention potential," he said. "Surrounding areas, especially those downstream, tend to flood quicker now."

The downsides, according to Rieley, result from the vast chunks of Indonesia's peatlands that have been burned, logged, drained, and left vulnerable to fire. It's all part of an effort to feed a burgeoning population of more than 210 million people and jump-start an ailing economy.

Tropical peatlands consist of layer upon layer of forest debris too wet to decompose. They cover approximately 50 million acres (20 million hectares) in Indonesia, or nearly 11 percent of the country's total land area. Key areas of peatland burning include Borneo, Sumatra, and West Papua.

Rieley is the co-leader of an international project that has studied the ecology of the peatland in the province of Central Kalimantan in Borneo since 1993.

Scientists know that these peatlands serve as gigantic stores of carbon. They have accumulated woody debris for millennia, locking it up in soggy piles that in places reach 66 feet (20 meters) deep.

Now that the peatlands regularly burn, Rieley and his colleagues say these carbon stores have become carbon sources. They're rapidly increasing atmospheric concentrations of the greenhouse gas carbon dioxide (CO2), potentially spurring global warming.

"I am a peatland expert, not a climate one," Rieley said. "What I do know, however, is that tropical peatlands are releasing a very large amount of carbon from [storage] that is likely to be contributing to the accelerating increase in CO2 in the atmosphere."

"If other experts believe that this higher level of CO2 is propelling global warming, then of course tropical peatlands are part of that," he added.
Larry Smith is an associate professor of geography at the University of California, Los Angeles, who studies the vast peatlands in Siberia. He said scientists are just now beginning to understand the role peatlands play in the regulation of greenhouse gases.

Healthy peatlands absorb carbon dioxide as new vegetation grows, serving as a carbon sink. But microbes that thrive in these oxygen-poor, soggy environments slowly and incompletely decompose the plant material, causing peat to accumulate over time.
"A primary product of anaerobic [oxygen-poor] decomposition by microbes is methane," Smith said. "As [the peat] is decomposed, some carbon is released as methane rather than carbon dioxide."

Calculations on how much carbon peatlands store show that most of the world's peatlands are "slight sinks to neutral in terms of their net carbon balance," Smith said.

He and his colleagues are now trying to tease out the details of where the balance for Siberian peatlands teeters—from being a slight carbon sink or neutral to a source of carbon. Preliminary calculations suggest peatland could become carbon generators if global temperatures continue to rise, drying out the peatlands.

According to Rieley and his colleagues, the balance has already swung in Indonesia. Historically, tropical peat bogs have absorbed carbon at much faster rates than the peatlands in more northern latitudes.

"They are obviously of great importance in the global carbon cycle," Rieley said. "This role is now being destroyed by inappropriate land use and fire that has changed tropical peat bogs from sinks into sources of carbon."

Mega Rice Project

For decades Indonesia's peatlands have been burned and drained to make room for agriculture and settlements, but in 1995 the pace of destruction quickened with former dictator Suharto's Mega Rice Project.

The project was intended to turn Central Kalimantan into the country's rice bowl by logging and draining approximately 2.5 million acres (1 million hectares) of peatland and planting it with rice.

For two years workers cleared the forests and dug some 2,900 miles (4,600 kilometers) of canals, some as wide as 100 feet (30 meters). The canals were to keep the soil drained in the rainy season and crops irrigated in the dry season.

But the plan backfired. The peatlands are raised above the adjacent rivers, so the constructed canals only sucked the peatlands dry. Then in 1997 the El NiƱo weather phenomenon brought a severe, eight-month drought to the region. The high and dry peatlands went up in flames.

Rieley set out to measure the carbon released by the fires. He was joined by colleagues Florian Siegert of the Ludwig-Maximilians-University in Munich, Germany, and Susan Page of the University of Leicester in the United Kingdom. The team used a combination of satellite imagery and ground measurements to estimate that the 1997 peat and forest fires released between 0.87 and 2.57 billion tons of carbon into the atmosphere.

"Undoubtedly these fires and associated carbon loss from degrading peat converted to agriculture and settlement are contributors to the accelerating increase in atmospheric CO2 concentrations," Rieley said.

The team's original report appeared in the science journal Nature in 2002. In today's issue (November 11, 2004) of the journal, a news feature investigates the current crisis and the conservation community's attempts to bring the peatlands back to life.

At a press conference on Wednesday, Rieley and colleagues called on political leaders and international aid organizations for support in their efforts to save the Indonesian peatlands.
Read more ...

Friday, February 20, 2009

Dampak Pemanasan Global

P e m a n a s a n G l o b a l

Pemanasan global terjadi akibat peningkatan suhu global karena terjadinya efek rumah kaca yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Karena itu aktivitas ekonomi yang mengkonsumsi energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui) memiliki kontribusi terhadap pemanasan global. Begitu pula deforestasi juga makin memperparah pemanasan global.


Siapa yang seharusnya paling bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global ini ?

Tabel 1 menunjukkan bahwa hingga saat ini negara-negara maju masih mendominasi emisi karbon, meski penduduk mereka hanya 15% dari penduduk dunia. Amerika Serikat, misalnya, meskipun pangsanya terhadap dunia secara persentase menurun, secara absolut sebenarnya terjadi peningkatan 25%. Lihat juga Rusia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Inggris. Mereka memiliki emisi karbon/kapita yang jauh di atas negara-negara dunia ketiga. Untuk dunia ketiga memang Cina dan India masih dominan. Kenaikan tertinggi terjadi di Cina, yang dalam kurun waktu 1990-2004 naik dari 2399 metrik ton menjadi 5007 metrik ton atau naik 109%. Emisi karbon perkapitanya 3.8 ton karbon/kapita. Begitu pula India, kurun 1990-2004 secara absolut terjadi kenaikan sebesar 97%, meski pangsanya terhadap dunia hanya naik sekitar 25%. Mengingat jumlah penduduknya yang tinggi, menyebabkan emisi karbon kapita hanya 1.2 ton karbon/kapita tahun 2004. Sementara itu, Indonesia hanya kontribusi 0.9% pada tahun 2004 dan 1.3% tahun 2004, yang hingga saat ini sekitar 85% disebabkan deforestasi.


Tabel 1. Negara-Negara Emiter Karbon

NegaraPangsa terhadap Total Dunia (%)Emisi Karbon/kapita (t CO2) 1990200419902004

Amerika Serikat21.220.919.320.6

Cina10.617.32.13.8

Rusia8.75.313.410.6

India3.04.60.81.2

Jepang4.74.38.79.9

Jerman4.32.812.39.8

Kanada1.82.215.020.0

Inggris2.62.010.09.8

Indonesia0.91.31.21.7

Brazil0.91.11.41.8

Thailand0.40.91.74.2


Sumber : disarikan dari Human Development Report (2007)
Human Development Report (2007) yang baru saja dikeluarkan UNDP juga melaporkan bahwa akibat dari pemanasan global tersebut, kurun waktu 2000-2004, sekitar 262 juta orang telah terkena bencana iklim (climate disasters), dan 98% dari mereka adalah penduduk di dunia ketiga. Sementara itu di negara maju, satu dari 1500 orang merupakan korban bencana iklim. Banjir adalah salah satu bencana yang disebabkan perubahan iklim ini. Peningkatan suhu 3-4 derajat celcius dapat menyebabkan 330 juta orang di dunia akan kehilangan tempat tinggal akibat banjir. Tentu bila tidak diantisipasi korban akan makin meningkat mengingat saat ini sekitar satu milyar orang hidup di pemukiman kumuh yang rentan terkena banjir. Diproyeksikan pada tahun 2020 mereka akan bertambah menjadi 1.4 milyar jiwa dan 2030 menjadi 2 milyar jiwa. Meningkatnya suhu air laut juga akan mempengaruhi badai tropis, dan sekitar 334 juta orang sangat rentan terhadap badai tropis ini. Sementara itu dampaknya terhadap pertanian dan ketahanan pangan sangat dirasakan. Diperkirakan di Afrika, sekitar 60-90 juta hektar akan terkena kekeringan dan merugikan sekitar 26 milyar USD di tahun 2060. Fakta-fakta inilah dapat menggambarkan bahwa dunia ketigalah yang akan menjadi korban dari perubahan iklim global yang sebenarnya disebabkan oleh negara-negara maju.


D a m p a k T e r h a d a p L au t
Memang hal yang paling nyata dari pemanasan global adalah dampaknya terhadap laut, yakni kenaikan permukaan air laut , yang selanjutnya memiliki dampak terhadap kondisi sosial ekonomi. Jika terjadi kenaikan 50 cm di sekitar Karibia maka sepertiga pantainya akan hilang. Hasil penelitian Dasgupta dkk (2007) menunjukkan bahwa kenaikan air laut satu meter akan berdampak terhadap 1.3% penduduk dunia, dan merugikan senilai 1.3% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 1% wilayah kota, dan 0.4% lahan pertanian (Tabel 2).


Tabel 2. Kenaikan Permukaan Air Laut dan Dampaknya terhadap Sosial Ekonomi Tingkat Kenaikan Permukaan air LautDampak (% dari total global)

LahanPendudukPDBKotaArea PertanianArea lahan basah
10.31.31.31.00.41.9
20.52.02.11.60.73.0
30.73.03.22.51.14.3
41.04.24.73.51.66.0
51.25.66.14.72.17.3


Sumber : Dasgupa dkk (2007) dalam Human Development Report (2007)
Hilangnya pulau-pulau kecil merupakan ancaman langsung, tidak saja berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi dan ekosistem juga terhadap geopolitik kita, mengingat pulau terluar merupakan pijakan penting dalam menentukan batas wilayah dengan negara lain. Selain kenaikan permukaan air laut, peningkatan suhu air laut juga akan berdampak pada keanekaragaman hayati di wilayah pesisir dan laut. Secara umum dengan meningkatnya suhu sebesar 1.5-2.5 derajat celcius, maka 20-30% species tumbuhan dan hewan terancam. Untuk ekosistem pesisir dan laut, terumbu karang dan mangrove kini mulai terancam. Akibat El-Nino tahun 1998 saja sekitar 16% karang dunia rusak, antara lain berupa pemutihan (bleaching). Kini, Indonesia memiliki 50 ribu km2 terumbu karang atau sekitar 18% dari luasan terumbu karang dunia. Namun demikian kerusakan terumbu karang di Indonesia tidak hanya karena faktor iklim, tetapi juga karena pengaruh ulah manusia (antropogenik) baik melalui praktek pengeboman maupun sedimentasi, dan seterusnya. Berdasarkan Status Lingkungan Hidup Indonesia (2005), kita memiliki 590 spesies terumbu karang. Dengan terumbu karang seluas 50 ribu km2, sekitar 5.83% sangat baik, 25% baik, 36.59% sedang,
dan 31.29% rusak. Rusaknya terumbu karang tersebut akan sangat mengganggu kegiatan sosial ekonomi masyarakat, mengingat terumbu karang memiliki fungsi sebagai tempat pemijahan dan bertelur, sehingga sangat mempengaruhi stok ikan. Bayangkan, sekitar 30 juta nelayan di dunia tergantung pada ikan-ikan karang. Dan, setengah kebutuhan protein dan kandungan gizi untuk 400 juta orang miskin di dunia disuplai dari ikan (UNDP, 2007). Belum lagi nilai ekonomi untuk wisata bahari.

Kenaikan permukaan air laut juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Pada tahun 1990-an luas mangrove kita 9.2 juta hektar, dan tingkat kerusakan 57.6%. Rusaknya mangrove akan berdampak pada abrasi pantai karena tidak adanya penahan gelombang. Begitu pula pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya penyaring polutan, dan berbagai spesies juga hilang. Serta, kegiatan budidaya perikanan tradisional akan terancam dengan sendirinya. Kejadian banjir sepanjang jalan tol bandara beberapa waktu lalu adalah bukti kerugian akibat rusaknya mangrove di pesisir utara Jakarta
Read more ...

 

Followers

Blog Archive

About this Blog

Ini blog merupakan blog untuk informasi kepada teman teman semua bahwa pentingnya menjaga alan untuk kesimbangan dalam kehidupan ini maka kita perlu berbuat bukan hanya bicara untuk menjaga alam ini